 |
| Sumber : wikimedia.org |
Arkand Bodhana Zeshaprajna yang selama ini bergelut di dunia metafisika
mengusulkan agar nama negara Indonesia diganti menjadi Nusantara. Bukan
tanpa alasan bagi Arkand untuk mengganti nama republik ini yang sudah
terlanjur melekat itu.
Menurut Arkand, nama Indonesia dalam dunia metafisika tidak memberi
energi yang positif bagi bangsa ini. Arkand yang sudah menekuni dunia
selama 20 tahun ini meyakini nama Nusantara akan membuat nasib bangsa
ini lebih baik.
Menurut Arkand, banyak kebudayaan di dunia yang mengganti nama seseorang
yang sering sakit pada masa anak-anak. Begitupun dengan negara, jika
bangsanya sering sakit-sakitan, maka mengganti nama negara bisa jadi
solusi.
Lalu apa alasan Arkand merubah nama Indonesia menjadi Nusantara? Berikut
lima penjelasan Arkand tentang pentingnya arti sebuah nama. Dalam
pandangan metafisika Arkand, nama Indonesia untuk penyebutan republik
ini dinilai tidak tepat. Dia pun mengusulkan agar nama Republik
Indonesia diganti dengan Nusantara, penyebutan yang sudah sering
digunakan di zaman Majapahit.
Arkand Bodhana Zeshaprajna mengusulkan nama negara
Indonesia dengan Nusantara. Dalam pandangan metafisika, nama Indonesia
hanya memiliki Synchronicity Value sebesar 0.5. Synchronicity Value
adalah paramater dalam Arkand secret code untuk menganalisa sebuah nama.
Menurut Arkand, rentang Synchronicity Value berada di kisaran 0,05
hingga 1,0. Sedangkan Synchronicity Value yang positif berada di angka
0,8 hingga 1,0. Nama Indonesia sendiri kata Arkand hanya memiliki
Synchronicity Value 0,5.
"Bahwa negara-negara maju memiliki struktur nama yang berkualitas baik
dan negara-negara yang belum juga maju dan tetap miskin memiliki
struktur nama yang berkualitas rendah," tulis Arkand dalam situsnya,
Arkand.com yang dikutip merdeka.com.
Paramater lain yang digunakan Arkand adalah Coherence Value. Coherence
Value menunjukkan struktur kode-kode dalam diri sendiri yang saling
berkaitan satu dengan kode yang lainnya. Rentang Coherence Value berada
di kisaran 0,1 hingga 1,0. Sedangkan nilai positifnya di kisaran 0,7
hingga 1,0.
Dari pengamatan Arkand, Indonesia hanya memiliki Coherence Value sebesar
0,2. Hal ini jauh dari bagus sehingga nama Indonesia harus diganti
dengan nama yang lebih baik, yakni Nusantara.
Coherence Value dalam kehidupan bisa dilihat dari cara seseorang atau
negara menguasai satu atau beberapa keahlian. Semakin tinggi Coherence
Value tingkat penguasaan terhadap keahlian semakin baik.
Menurut Arkand, kata Indonesia bukan berasal dari orang Indonesia atau
pribumi. Hal ini membuat perjalanan bangsa kini menjadi terseok-seok.
James Richardson Logan pada tahun 1850 menulis artikel The Ethnology of
the Indian Archipelago (Etnologi dari Kepulauan Hindia). Pada awal
tulisannya, Logan pun menyatakan kesetujuannya tentang perlunya nama
khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah Indian Archipelago
(Kepulauan Hindia) terlalu panjang dan membingungkan.
Logan kemudian memungut nama Indunesia yang sebelumnya diperkenalkan
oleh George Samuel Windsor Earl, seorang ahli etnologi bangsa Inggris.
Oleh Logan, huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik.
Maka lahirlah istilah Indonesia. Dan itu membuktikan bahwa sebagian
kalangan Eropa tetap meyakini bahwa penduduk di kepulauan ini adalah
Indian, sebuah julukan yang dipertahankan karena sudah terlanjur akrab
di Eropa.
"Asal-usul kata yang ternyata bukanlah hasil karya putra bangsa dan
struktur kata yang ternyata tidak baik, yang terbuktikan dengan kondisi
bangsa dan negara hingga saat ini yang semakin buruk membangkitkan
pemikiran untuk mengganti nama negara Indonesia," ujar Arkand.
Menurut Arkand, banyak kebudayaan di dunia yang mengganti nama seseorang
yang sering sakit pada masa anak-anak. Begitupun dengan negara, jika
bangsanya sering sakit-sakitan, maka mengganti nama negara bisa jadi
solusi.
"Jika di banyak budaya di dunia yang mengganti nama seseorang yang
sering sakit pada masa anak-anak melalui pendekatan budaya dan
religiusitas, maka saat ini kita mendekatinya juga melalui pendekatan
budaya, religiusitas dan ilmu pengetahuan. Tiga pendekatan ini menemukan
satu kata: Nusantara," tutup Arkand.
Kesimpulan nahwa Nama Indonesia tidaklah Cocok dan menrut beliau bahwa Nama Indonesia diganti dengan Nama "
NUSANTARA
Sumber : Merdeka.com